Halo Viewers, Salam Hangat dari Penulis! Ngomong-ngomong masalah Milenial, kalian udah pada tau belom Generasi Milenial itu apa? Pastinya dong! Tapi ga etis nih kan kalo ga dijelasin dulu Generasi Milenial itu apa, so langsung aja nih!
Menurut Wikipedia, Generasi Milenial atau Generasi Y ini adalah kelompok demografi setelah Generasi X. Tidak ada batasan waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini. Para Ahli dan Peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran.
Istilah Milenial sendiri berasal dari kata 'millennials' yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Generasi Y ini juga memiliki beberapa ciri-ciri khas seperti beberapa diantaranya adalah lebih mempercayai sistem User Generated Content ketimbang Iklan Konvensional dari Perusahaan Besar, wajib mempunyai akun social media sebagai pusat informasi dan komunikasi, lebih memilih membaca lewat smartphone ketimbang membaca lewat buku, lebih memilih Youtube atau Gadget mereka ketimbang TV, dan masih banyak lagi.
Bicara tentang Milenial yang hidup di zaman Hi-Tech alias serba berteknologi canggih nih, dimana semua serba praktis dan cepat pastinya ga luput dari lifestyle hedonisme dan doyan party-party have fun sama temen kan? Udah ngaku aja, sebagian besar milenial pasti punya atau pernah bergaya hidup kayak gitu, tapi kayaknya bukan pernah sih, sampe sekarang masih dan entah kapan berakhirnya, mungkin ya mungkin, kecuali kalau udah nikah ya hehehe.
Nah ngomong-ngomong tentang lifestyle serba praktis dan hedonisme, kenapa sih rata-rata milenial punya lifestyle kayak gitu? Oh iya, Penulis ga bilang semuanya ya. Tapi rata-rata loh, rata-rata ini hehe. Balik lagi ke laptop, bicara tentang jawabannya kenapa milenial bergaya hidup seperti itu pastinya salah satunya karena ga lepas dari perkembangan zaman yang udah serba canggih seperti sekarang dong.
Tapi ditengah lifestyle yang seperti itu, tentunya terdapat dilema pastinya bagi para milenial, terutama kelahiran tahun 1995-2000an yang rata-rata udah pada usia 19-20 tahunan yang sebagian besar udah pada kuliah atau merantau jauh dan kerja juga kan ya. Gimana enggak coba? Kita hidup di zaman yang bisa dibilang berbeda jauh dari zaman seperti orangtua kita dulu, yang mana kalau merantau jauh udah pakai duit sendiri. Tapi ga begitu dengan milenial!
Kita para milenial udah bisa hidup mewah makan enak dan merantau jauh tanpa kerja dulu, Guys! Cuma tinggal ngomong kiriman langsung dapet kayak jatoh dari langit.
CATATAN!!! Tapi ga semua generasi milenial bisa kayak gitu ya, ada juga yang bulanannya sengaja dibatasin supaya bisa berhemat walaupun ujung-ujungnya mau ga mau kelebihan dari jatah bulanan juga. Nah disini nih mulai timbul benih-benih dilema, "Sampe Kapan kalau mau apa-apa minta dari orangtua terus?", "Sampe kapan ngalamin akhir bulan terus?", dan pertanyaan-pertanyaan klise lainnya.
Disana kadang sedih aku tuh, udah dikasih banyak aja masih kurang, gimana coba caranya biar bisa menghilangkan pertanyaan-pertanyaan klise kayak diatas dalam otak benak hati pikiran kita?!?! Biar bisa sejahtera aman sentosa tapi ga perlu minta-minta dari orangtua terus!!! Huahaha becanda guys, jangan dibawa serius dong ya!
Tapi di sisi lain lingkungan pergaulan milenial dengan lifestyle yang seperti itu pasti menimbulkan sedikit perasaan minder untuk tidak berbaur, ikut bersosialisasi dan bersenang-senang, takut dibilang cupu, anti sosial karena terlalu mikirin masa depan, ya gitulah pokoknya. Jadi balik lagi, berteman atau beramal?
Ketika kita memutuskan untuk kerja atau fokus membangun bisnis, otomatis waktu untuk main-main atau sekedar 'say hello' kepada teman-teman pun berkurang, belum ditambah lagi oleh tugas kuliah. Ya walaupun kalau dari Penulis sendiri ga terlalu berat atau neko-neko banget sih tugasnya, tapi ga semua jurusan kayak gitu dan ga semua orang bisa multitasking dengan benar antara kuliah, kerja, apalagi sambil organisasi dong yaa. Apalagi lifestyle hedonisme disandingkan sama lifestyle para pebisnis dan hardworker yang rata-rata sangat simple, sederhana, dan sayang duit. Ibaratnya lifestyle sederhana itu beramal, menggemukkan tabungan dan investasi untuk orang-orang terdekat, atau memang diniatkan untuk menyisakan budget khusus untuk yang membutuhkan, atau mungkin untuk orangtua di masa tuanya nanti atau justru untuk orangtuanya yang sedang butuh 'emergency' dari anaknya? Hehe siapa yang tau.
Nah kalau dari Penulis sendiri nih, Penulis memutuskan untuk mulai 'menjemput rezeki' sendiri itu udah dari semester 1 sih, dimana di awal merantau benar-benar kerasa ga seleluasa kalau lagi di rumah sendiri. Dan sejak saat itu, Penulis mulai banyak gonta-ganti part time, iya buat yang ini jangan dicontoh ya, kalau Penulis sih pastinya selalu mencari part time atau kerja paruh waktu yang seenggaknya gajinya setengah dari jatah bulanan Penulis ehehehe.
Dan ditengah-tengah itu juga diselingin sama organisasi dan sebagainya. Tapi intinya, kesulitan itu datang untuk memperkuat diri kita walaupun awalnya ga enak, tapi dari yang ga enak itulah lahir kenikmatan yang sesungguhnya. Ketika kita mulai bosen terus-terusan bergantung ke orang lain atau orangtua khususnya disana kita termotivasi untuk lebih cepat mandiri daripada umumnya.
APAKAH MENGGANGGU LINGKUP PERGAULAN? Penulis tidak bisa berkata tidak, tapi juga bukan berarti mengganggu 100% nih, semua tergantung dari bagaimana para milenial memandang dan menghadapi dunia yang dinamis ini, waktu nongkrong-nongkrong cantik Penulis udah pasti ke-diskon, tapi dari sisi Penulis sendiri sih itu ga terlalu masalah dan tetap enjoy kehidupan perkampusan seperti biasa, selama teman yang ditemenin bisa ngertiin dan bukan temen abal-abal ya ga masalahkan?
Terakhir, tentunya pilihan ada di tangan milenial. Mau beramal bin jadi anak mandiri atau berteman bin jadi anak gaul? Dua-duanya punya benefitnya masing-masing, tapi selalu ada yang benefitnya lebih banyak diantara yang lainnya, tinggal kita aja mau pilih yang mana. Tidak ada yang salah dari keduanya, hanya saja beramal dan pertemanan tidak bisa dijalankan 100% secara bersamaan, selalu ada perbedaan pendapat antara manusia yang satu dengan yang lain.